Jumat, 02 Januari 2015

Pahlawan kesiangan



“dot lo harus pergi dari pulau ini sekarang” mamat memerintah kan bandot untuk cepat pergi dari tempat tinggalnya yang sekarang.
“kenapa gua harus pergi?” bandot bertanya dengan muka bingung.
“elu tau gak kalo bini elu itu Bandar narkoba dan sekarang dia lagi di incer polisi, kalo elu pergi setidaknya cuman bini elu doang yang di tahan” mamat mejelaskan kepada bandot dengan berbisik.
“elu sok tau mat. Mana mungkin bini gua kayak gitu, walaupun gua orang miskin gua gak bakal nyentuh barang haram kayak gitu” bandot terbawa emosi ngan perkataan mamat yang sebelumnya.
“gua enggak bohong dot, elu tau kan kalo temen gua ada yang jadi polisi gua di kasih tau dia kalo bini elu udah jadi inceran selanjutnya buat di tangkep” mamat menjelaskankepada bandot.
“gua masih enggak percaya sama elu mat, teganya lo ngomong kayak gitu” bandot pun marah dan menyuruh mamat pulang meninggalkan rumahnya. Setelah mamat pulang dari rumah bandot tak lama kemudian istri bandot pulang.
“ dari mana aja kamu baru pulang sekarang?” tanya bandot kepada istrinya.
“abis ketemu temen bang tadi” jawab istrinya.
Tak berapa lama kemudian setelah istrinya menjawab pintu rumah bandot di gedor dengan keras. Dan saat bandot membuka pintu tiga orang pria bertubuh besar dan menggunakan jaket kulit langsung masuk kerumahnya dan menutup pintunya. Bandot pun kaget kenapa orang-orang itu langsung masuk kerumahnya dan mengunci pintu rumahnya dari dalam dengan membawa pak RT. Mereka semua duduk di ruang tamu termasuk bandot dan istrinya. Rasa kaget bandot pun bertambah setelah mereka menjelaskan bahwa mereka dari kepolisian.
“selamat siang pak, kami dari kepolisian ingin memberitahukan surat penangkapan untuk istri anda dan ketua RT sebagai saksinya” polisi menjelaskan dengan suara lantang.
“atas dasar apa kalian menangkap istri saya?”bandot bingung kenapa istrinya harus di tangkap oleh para polisi.
“istri bapak terjerat oleh jaringan penjualan narkoba dan sekarang kami akan menggeledah rumah ini untuk mencari barang bukti” polisi menjelaskan kepada bandot dan segera bergegas mencari barang bukti yang ada.
            Bandot sangat syok dengan apa yang polisi katakana ternyata omongan temannya benar bahwa istrinya menjual barang haram untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walaupun hidupnya sangan miskin dan serba kekurangan bandot selalu mengajarkan anak dan istrinya untuk berbuat baik dan benar di jalan Allah. Bandot kecewa dengan apa yang sudah istrinya lakukan namun sebagai kepala keluarga jiwa pahlawannya muncul untuk membela istrinya.
“pak yang mengedarkan narkoba itu adalah saya bukan istri saya dia hanya menjalankan perintah dari saya, jadi tolong tangkap saja saya jangan istri saya” bandot berkata bohong untuk membela istrinya.
“apa yang abang lakukan ini malah membuat kita berdua semakin tertangkap” istri bandot berbisik kepada suaminya.
Polisi sempat tercengang dengan apa yang bandot katakana karena surat penangkapan hanya untuk istrinya bukan untuk keduanya. Polisi segera memborgol tangan bandot dan istrinya dan mereka berdua di tetapkan sebagai tersangka. Barang bukti pun di temukan ada tiga bungkus kecil sabu-sabu yang di sembunyikan oleh istri bandot di dalam lemarinya. Bandot dan istrinya di giring polisi  untuk masuk ke mobil. Saat dia keluar rumahnya halaman depan rumahnya sudah penuh oleh warga-warga sekitar yang ingin tahu apa yang sedang terjadi kepada bandot.Setelah sampai di kantor polisi bandot dan istrinya masuk ke tahanan sementara karena polisi masih menyelidiki kasusnya bandot dan istrinya, polisi juga mengintrogasi mereka berdua.
“maafkan saya bang karena saya abang jadi ikut terkena masalah” istri bandot berkata sambil menangis sesenggukan
“harusnya saya tidak malakukan ini semua, saya hilaf dengan hasil uang haram yang saya dapatkan” istri bandot berkata dengan sangat menyesal.
Bandot tidak dapat berkata apapun apalagi menenangi istrinya karna dia sangat marah dengan apa yang istrinya lakukan. Ke esokan harinya mamat menjenguk bandot di rumah tahanan sementara.
“apa yang gua bilang bener kan dot, kalo aja seandainya elu pergi pasti elu gak bakalan ketangkep juga” mamat berkata dengan menggebu-gebu.
“dan harusnya juga lo enggak usah mengakui kesalahan istri lo, percuma aja lo cuman bakalan jadi pahlawan kesiangan doang. Inget lo masih punya anak yang harus lo urus kalo ibu sama bapaknya di penjara apa lo gak kasian ngeliat anak lo sendirian.” Mamat mengingatkan bandot.
“tapi mau gimana lagi mat itu istri gua dan gua harus ngebela dia walaupun semua itu cuman kebohongan” bandot berkata.
“tapi inget dot kalo lo ngaku berarti lo juga ikut di penjara bareng istri lo itu dan sebelom terlambat lebih baik lo mengaku yang sejujurnya kalo lo enggak tau apapun tentang narkoba itu” mamat masih meyakinkan bandot untuk berubah pikiran.
“ gua tetep enggak bisa ngeliat istri gua sendirian di bui, lebih baik gua yang ngaku salah dan istri gua bisa keluar ngejaga anak gua” bandok masih berpikir dengan egonya.
“oke kalo itu emang keputusan elu, tapi inget ya dot apa yang lo lakuin saat ini itu bener-bener percuma karna yang ada elu sama istri elu bakalan masuk penjara. Yang bisa bebas itu cuman elu, itupun kalau elu mengatakan yang sejujurnya”. Setelah mengasih nasihat mamat pun pulang meninggal kan bando.
            Setelah menunggu waktu dua minggu lamanya untuk proses introgasi akhirnya mereka berdua di jatuhi hukuman enam tahun penjara di kenakan pasal pengedaran narkoba. Bandot baru sadar apa yang dia lakukan bagaikan pahlawan kesiangan. Mencoba untuk melindungi tapi kenyataannya malah tidak membuahkan hasil apapun. Dia harus merelakan dirinya terkena hukuman atas apa yang tidak dia lakukan dan dia menyesal karna meninggalkan anaknya sendirian. Bandot baru menyadari itu semua ketika hukuman telah di tetapkan oleh jaksa. Ia merasa seperti orang bodoh yang mencoba menjadi pahlawan.
The End


Tidak ada komentar:

Posting Komentar